SAMARINDA, KOMPAS.com - Kota Samarinda, Kalimantan Timur perlu dipimpin wali kota yang berani dan bersih untuk mengatasi masalah korupsi, minimnya perhatian terhadap pendidikan, dan kerusakan lingkungan.
Memang perlu wali kota yang berani antikorupsi agar pemerintahannya berwibawa.
Demikian terungkap dalam Diskusi Publik Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Samarinda bertajuk Kandidat Jualan Apa oleh Jurnalis Center di Samarinda, Kamis (6/5/2010). Hadir sebagai pembicara ialah bakal calon wali kota Andi Harun, Sencihan, Riswan Asmaran, dan Sutrisno Wiro serta bakal calon wakil wali kota Nusyirwan Ismail.
Penggiat antikorupsi Rachmadi A Rachim (panelis) mengatakan, kasus korupsi perlu menjadi perhatian. Apalagi kini tujuh pejabat pemerintah setempat ditahan dalam kasus korupsi pengadaan tanah untuk pembangunan gardu induk PLN. "Memang perlu wali kota yang berani antikorupsi agar pemerintahannya berwibawa," katanya.
Pengamat pendidikan, Nanang Riyono (panelis) mengatakan, program yang dijual para kandidat sedikit yang menyentuh persoalan mutu pendidikan dan penanganan guru serta dosen. Para kandidat masih berkutat dalam persoalan mempertahankan alokasi 20 persen APBD.
Pengamat sosial dan lingkungan Roedy Haryo Widjono (panelis) mengatakan, Samarinda dihadapi persoalan besar seperti karut marutnya perizinan tambang batu bara, kegagalan mengatur pertumbuhan pusat-pusat ekonomi dan perumahan sehingga, dan melupakan pentingnya ruang publik seperti taman kota atau alun-alun.
"Penanganan masalah di Samarinda sebaiknya terjadi dengan cara-cara luar biasa. Itu cuma bisa dilakukan dengan wali kota yang berani dan mungkin sedikit nyeleneh tetapi tidak menabrak aturan," kata Roedy.
Andi Harun, anggota DPRD Kaltim, menawarkan penanganan banjir, pembenahan infrastruktur jalan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Rahim Asmaran, pengamat tata kota dan dosen, menawarkan manajemen kependudukan dan lingkungan serta tata kelola pembangunan kota. Nusyirwan Ismail, pejabat di Pemprov Kaltim, menawarkan program stabilitas, pertumbuhan ekonomi, Samarinda metropolitan, pemerintahan yang bersih, dan pemberdayaan perempuan dan pemuda.
Sencihan, penggiat LSM, menawarkan pengentasan masalah pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, pemberantasan korupsi dengan audit total birokrasi dan pemecatan pejabat yang terlibat. Sutrisno, pengusaha, menawarkan Samarinda modern dan berwawasan lingkungan.(kompas.com/07/05/2010)
Selasa, 18 Mei 2010
Diskusi Publik "Pemilukada Samarinda, Kandidat Jualan Apa"
Diskusi Publik
2010-05-06 23:43:41
SAMARINDA-Diskusi publik garapan Jurnalis Centre, Kamis (6/5) di Ball Room Hotel Bumi Senyiur, berjalan sukses. Dialog bertema "Pemilukada Samarinda, Kandidat Jualan Apa" dihadiri calon Walikota Samarinda Andi Harun dan Senci Han. Sedangkan Syaharie Jaang diwakilkan Nusyirwan Ismail, perseorangan dihadiri Ridwan Asmaran, serta Sutrisno.
Direktur Eksekutif Jurnalis Centre yang juga Ketua Panitia , Fitriansyah Adisurya usai acara kepada kalangan wartawan, mengatakan bahwa acara dialog ini bisa dikatakan sukses, sesuai harapan. 7 kandidat yang diundang hadir lima kandidat. "Hal ini, tentunya sebuah penghargaan bagi panitia dengan hadirnya para kandidat. Begitu juga para undangan yang hadir, terdiri para tim pemenangan calon, walikota, akademisi, politisi, mahasiswa,OKP-Ormas dan kelompok-kelompok paguyuban memenuhi target. Sehingga menjadi bahan evaluasi untuk mengelar acara yang sama, dimasa kedepannya dengan format yang berbeda," kata Fitri.
Ia menambahkan, hasil dialog ini tentunya, masyarakat bisa menilai siapa calon walikota yang mumpuni dalam memimpin Samarinda nanti. Namun, ia menyayangkan tidak hadirnya kandidat lain.
Dalam dialog yang dikemas menarik, santun, lugas namun cerdas itu. Menghadirkan 4 panelis. Yakni Aktivis anti korupsi, Rahmadani A Rachim, Pakar pendidikan Nanang Riyono, Ambrosius dari Kompas, dan Budayawan Romo.
Dalam kesempatan itu, Nusyirwan mengatakan, stabilitas politik, kearifan, kebersamaan dan keamanan adalah kunci keberhasilan membangun kota. Sebab berinvestasi namun kondisi daerah tidak stabil, tentunya pembangunan sebuah kota tidak akan berhasil.
Soal pertambangan batubara di Samarinda, menurut dia, sah-sah saja. Asalkan, ada legalitas dan amdalnya ada, sebab jika dua-duanya tidak ada itu perlu dipertanyakan selanjutnya ditutup kalau merugikan masyarakat.
"Samarinda pertumbuhan pendatang lebih tinggi, dari pada kelahiran. Untuk itu lapangan pekerjaan harus dibuka seluas-luasnya untuk mengurangi pegangguran," ungkapnya.
Sementara itu, Andi Harun menekankan pembangunan infrastruktur jalan ditingkatkan sebab 50 persen sarana jalan di Samarinda rusak parah. Seharusnya APBD Samarinda sebesar 3,4 triliun dan potensi SDA-nya, mampu membangun Samarinda. Pasar malam yang menjamur harus dikelola dengan baik, Pusam Mania ikon Samarinda dan penataan sungai Mahakam dan Karang Mumus sebagai obyek wisata.
"Untuk itu, siapa yang terpilih menjadi walikota APBD harus dimaksimalkan, untuk kesejahteraan rakyat Samarinda," tegas Andi.
Sedangkan, Ridwan Asmaran. Menekankan untuk mengurangi angka kemiskinan managemen kependudukan harus ditata ulang. Sedangkan pemerataan pembangunan, arahnya harus ke Samarinda Seberang dan Palaran.
Calon indenpendent Senci Han, menekankan pemerintahan yang bersih, Samarinda harus punya indentitas daerah tidak korupsi, tata ruamg juga perlu dibenahi. BUMD harus diserahkan kepada yang berkompeten, "Bila terpilih menjadi walikota, dua keranda mayat akan saya taruh di depan kantor walikota. Jika korupsi Senci han dan Carolus Tuah penghuni pertama masuk keranda itu," kata Carolus.
Kebutuhan rakyat yang mendesak segera dipenuhi, seperti listrik, PDAM, dan pendidikan gratis benar-benar dilaksanakan, jangan terjadi ada sauransi kesehatan ada tapi ngurusnya ribet. " Pendidikan dan kesehatan gratis bukan kebijakan populis, karena itu kebijakan nasional," tegas Senci.
Calon indenpendent Sutrisno yang terlambat hadir, karena menjalani tes kesehatan, menekan perlu pemerintah yang bersih serta peningkatan pembangunan dipelosok-pelosok desa, serta pelayanan yang tidak berbelit-belit. Serta perlunya reformasi birokrasi.
"Seperti pelayanan akte kelahiran, perizinan. Sebaiknya dilayani di kecamatan saja, hal itu demi memudahkan pelayanan kepada masyarakat," ungkap Sutrisno.john
2010-05-06 23:43:41
SAMARINDA-Diskusi publik garapan Jurnalis Centre, Kamis (6/5) di Ball Room Hotel Bumi Senyiur, berjalan sukses. Dialog bertema "Pemilukada Samarinda, Kandidat Jualan Apa" dihadiri calon Walikota Samarinda Andi Harun dan Senci Han. Sedangkan Syaharie Jaang diwakilkan Nusyirwan Ismail, perseorangan dihadiri Ridwan Asmaran, serta Sutrisno.
Direktur Eksekutif Jurnalis Centre yang juga Ketua Panitia , Fitriansyah Adisurya usai acara kepada kalangan wartawan, mengatakan bahwa acara dialog ini bisa dikatakan sukses, sesuai harapan. 7 kandidat yang diundang hadir lima kandidat. "Hal ini, tentunya sebuah penghargaan bagi panitia dengan hadirnya para kandidat. Begitu juga para undangan yang hadir, terdiri para tim pemenangan calon, walikota, akademisi, politisi, mahasiswa,OKP-Ormas dan kelompok-kelompok paguyuban memenuhi target. Sehingga menjadi bahan evaluasi untuk mengelar acara yang sama, dimasa kedepannya dengan format yang berbeda," kata Fitri.
Ia menambahkan, hasil dialog ini tentunya, masyarakat bisa menilai siapa calon walikota yang mumpuni dalam memimpin Samarinda nanti. Namun, ia menyayangkan tidak hadirnya kandidat lain.
Dalam dialog yang dikemas menarik, santun, lugas namun cerdas itu. Menghadirkan 4 panelis. Yakni Aktivis anti korupsi, Rahmadani A Rachim, Pakar pendidikan Nanang Riyono, Ambrosius dari Kompas, dan Budayawan Romo.
Dalam kesempatan itu, Nusyirwan mengatakan, stabilitas politik, kearifan, kebersamaan dan keamanan adalah kunci keberhasilan membangun kota. Sebab berinvestasi namun kondisi daerah tidak stabil, tentunya pembangunan sebuah kota tidak akan berhasil.
Soal pertambangan batubara di Samarinda, menurut dia, sah-sah saja. Asalkan, ada legalitas dan amdalnya ada, sebab jika dua-duanya tidak ada itu perlu dipertanyakan selanjutnya ditutup kalau merugikan masyarakat.
"Samarinda pertumbuhan pendatang lebih tinggi, dari pada kelahiran. Untuk itu lapangan pekerjaan harus dibuka seluas-luasnya untuk mengurangi pegangguran," ungkapnya.
Sementara itu, Andi Harun menekankan pembangunan infrastruktur jalan ditingkatkan sebab 50 persen sarana jalan di Samarinda rusak parah. Seharusnya APBD Samarinda sebesar 3,4 triliun dan potensi SDA-nya, mampu membangun Samarinda. Pasar malam yang menjamur harus dikelola dengan baik, Pusam Mania ikon Samarinda dan penataan sungai Mahakam dan Karang Mumus sebagai obyek wisata.
"Untuk itu, siapa yang terpilih menjadi walikota APBD harus dimaksimalkan, untuk kesejahteraan rakyat Samarinda," tegas Andi.
Sedangkan, Ridwan Asmaran. Menekankan untuk mengurangi angka kemiskinan managemen kependudukan harus ditata ulang. Sedangkan pemerataan pembangunan, arahnya harus ke Samarinda Seberang dan Palaran.
Calon indenpendent Senci Han, menekankan pemerintahan yang bersih, Samarinda harus punya indentitas daerah tidak korupsi, tata ruamg juga perlu dibenahi. BUMD harus diserahkan kepada yang berkompeten, "Bila terpilih menjadi walikota, dua keranda mayat akan saya taruh di depan kantor walikota. Jika korupsi Senci han dan Carolus Tuah penghuni pertama masuk keranda itu," kata Carolus.
Kebutuhan rakyat yang mendesak segera dipenuhi, seperti listrik, PDAM, dan pendidikan gratis benar-benar dilaksanakan, jangan terjadi ada sauransi kesehatan ada tapi ngurusnya ribet. " Pendidikan dan kesehatan gratis bukan kebijakan populis, karena itu kebijakan nasional," tegas Senci.
Calon indenpendent Sutrisno yang terlambat hadir, karena menjalani tes kesehatan, menekan perlu pemerintah yang bersih serta peningkatan pembangunan dipelosok-pelosok desa, serta pelayanan yang tidak berbelit-belit. Serta perlunya reformasi birokrasi.
"Seperti pelayanan akte kelahiran, perizinan. Sebaiknya dilayani di kecamatan saja, hal itu demi memudahkan pelayanan kepada masyarakat," ungkap Sutrisno.john
Diskusi Garapan Jurnalis Centre, Mirip Debat Publik KPU
Jum'at, 07 Mei 2010 , 08:28:00
Diskusi Garapan Jurnalis Centre, Mirip Debat Publik KPU
Senci “Jualan” Layanan Gratis, Sutrisno Tak Mau Terbar Janji
Bagi berita/artikel ini kepada rekan atau kerabat lewat Facebook
Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah (Pemilukada) Kota Samarinda semakin dekat. Masing-masing kandidat kepala daerah dan pasangan tentunya sudah bersiap-siap dengan strategi melakukan penataan kota.
KEGIATAN yang merupakan garapan gabungan wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Centre ini digelar di Hotel Bumi Senyiur, kemarin (6/5). Sebanyak lima kandidat dari 8 yang sudah mendaftar, hadir dalam debat yang dikemas mirip seperti debat publik yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Kelima kandidat itu antara lain, Andi Harun, Senci Han, Riswan Asamaran, dan Sutrisno. Hanya satu yang bukan kandidat wali kota, tapi wakil wali kota yakni Nusyirwan Ismail. Pasalnya Syaharie Jaang berhalangan hadir, lantaran menghadiri pembagian insentif untuk RT se-Samarinda.
Tercatat tiga kandidat tidak hadir yakni Ipong Muchlissoni, Dani Firnanda, dan Iriansyah Busra. Dua di antara kandidat yang hadir, membawa pasangannya yakni Senci Han yang berpasangan Carolus Tuah dan Sutrisno berpasangan Yulianus Henock.
Sementara panelis yang dihadirkan di antaranya Nanang Riono (akademisi), Rachmadi Abdul Gaffar (LSM), Ambrosius (jurnalis), dan Romo Rudy (pemerhati lingkungan). Dipandu moderator Muchlis, debat berjalan cukup argumentatif.
Pada sesi awal, para kandidat diberi waktu lima menit untuk menyampaikan program-programnya. Dari kelima kandidat ini, lebih banyak membahas masalah banjir dan tata ruang kota. Karena masalah ini dianggap paling krusial untuk saat ini.
“Percuma anggaran Rp 2,4 triliun, tapi infrastruktur masih tidak layak. Makanya kami punya solusinya,” sela Andi Harun.
Saat giliran Riswan Asmaran, dikatakan mestinya pembangunan di Samarinda ini sudah mengalami percepatan 25 persen setiap tahunnya. Karena ditunjang anggaran yang besar, maka sangat layak pembangunannya juga berjalan dengan baik.
“Makanya tata kelola pembangunan kota harus diperbaiki. Kalau kesejahteraan masyarakat tak tercapai, maka pembangunan tidak ada apa-apanya,” imbuhnya.
Senci Han, kandidat kepala daerah dari unsur independen menyebutkan pemberian pelayanan gratis kepada masyarakat sebenarnya tidak membuat Samarinda bangkrut. Misalnya, untuk pemberian pelayanan gratis untuk pendidikan dan kesehatan. “Sekarang ini pembebasan pelayanan untuk masyarakat sepertinya ribet. Jadi masyarakat juga susah. Bahkan sekarang ini Samarinda belum banyak melakukan pembenahan,” katanya.
Sedangkan Nusyirwan, kandidat wakil wali kota mengatakan, berani berjanji untuk memperbaiki sistem pendidikan di Kota Samarinda. Menyusul hasil buruk dalam ujian nasional (UN) kemarin. Menurutnya, tak perlu saling menyalahkan menyangkut hasil buruk ujian dari semua sekolah.
“Karena yang perlu dibenahi adalah mekanisme dari dua sisi yang terlibat dalam pendidikan. Yakni pendidiknya dan pelajarnya,” kata Nusyirwan.
Yang dapat giliran terakhir adalah Sutrisno, kandidat yang juga melalui jalur independen mengatakan tidak bisa memberikan janji apa-apa. Tapi dirinya akan memberikan bukti nyata kepada masyarakat. Karena selama ini dianggapnya, semuanya hanya memberikan janji dan bukan bukti.
“Makanya ketika ditanya akan jualan apa untuk menjadi wali kota, ya, saya tidak mau. Karena itu pasti berjanji, dan saya tidak mau berjanji,” tandasnya.
Hadir dalam debat kandidat itu di antaranya Ketua DPRD Samarinda Siswadi, Ketua KPU Samarinda Syarifuddin Tangalindo, dan undangan dari masing-masing tim sukses. (zom/*/dym)
Diskusi Garapan Jurnalis Centre, Mirip Debat Publik KPU
Senci “Jualan” Layanan Gratis, Sutrisno Tak Mau Terbar Janji
Bagi berita/artikel ini kepada rekan atau kerabat lewat Facebook
Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah (Pemilukada) Kota Samarinda semakin dekat. Masing-masing kandidat kepala daerah dan pasangan tentunya sudah bersiap-siap dengan strategi melakukan penataan kota.
KEGIATAN yang merupakan garapan gabungan wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Centre ini digelar di Hotel Bumi Senyiur, kemarin (6/5). Sebanyak lima kandidat dari 8 yang sudah mendaftar, hadir dalam debat yang dikemas mirip seperti debat publik yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Kelima kandidat itu antara lain, Andi Harun, Senci Han, Riswan Asamaran, dan Sutrisno. Hanya satu yang bukan kandidat wali kota, tapi wakil wali kota yakni Nusyirwan Ismail. Pasalnya Syaharie Jaang berhalangan hadir, lantaran menghadiri pembagian insentif untuk RT se-Samarinda.
Tercatat tiga kandidat tidak hadir yakni Ipong Muchlissoni, Dani Firnanda, dan Iriansyah Busra. Dua di antara kandidat yang hadir, membawa pasangannya yakni Senci Han yang berpasangan Carolus Tuah dan Sutrisno berpasangan Yulianus Henock.
Sementara panelis yang dihadirkan di antaranya Nanang Riono (akademisi), Rachmadi Abdul Gaffar (LSM), Ambrosius (jurnalis), dan Romo Rudy (pemerhati lingkungan). Dipandu moderator Muchlis, debat berjalan cukup argumentatif.
Pada sesi awal, para kandidat diberi waktu lima menit untuk menyampaikan program-programnya. Dari kelima kandidat ini, lebih banyak membahas masalah banjir dan tata ruang kota. Karena masalah ini dianggap paling krusial untuk saat ini.
“Percuma anggaran Rp 2,4 triliun, tapi infrastruktur masih tidak layak. Makanya kami punya solusinya,” sela Andi Harun.
Saat giliran Riswan Asmaran, dikatakan mestinya pembangunan di Samarinda ini sudah mengalami percepatan 25 persen setiap tahunnya. Karena ditunjang anggaran yang besar, maka sangat layak pembangunannya juga berjalan dengan baik.
“Makanya tata kelola pembangunan kota harus diperbaiki. Kalau kesejahteraan masyarakat tak tercapai, maka pembangunan tidak ada apa-apanya,” imbuhnya.
Senci Han, kandidat kepala daerah dari unsur independen menyebutkan pemberian pelayanan gratis kepada masyarakat sebenarnya tidak membuat Samarinda bangkrut. Misalnya, untuk pemberian pelayanan gratis untuk pendidikan dan kesehatan. “Sekarang ini pembebasan pelayanan untuk masyarakat sepertinya ribet. Jadi masyarakat juga susah. Bahkan sekarang ini Samarinda belum banyak melakukan pembenahan,” katanya.
Sedangkan Nusyirwan, kandidat wakil wali kota mengatakan, berani berjanji untuk memperbaiki sistem pendidikan di Kota Samarinda. Menyusul hasil buruk dalam ujian nasional (UN) kemarin. Menurutnya, tak perlu saling menyalahkan menyangkut hasil buruk ujian dari semua sekolah.
“Karena yang perlu dibenahi adalah mekanisme dari dua sisi yang terlibat dalam pendidikan. Yakni pendidiknya dan pelajarnya,” kata Nusyirwan.
Yang dapat giliran terakhir adalah Sutrisno, kandidat yang juga melalui jalur independen mengatakan tidak bisa memberikan janji apa-apa. Tapi dirinya akan memberikan bukti nyata kepada masyarakat. Karena selama ini dianggapnya, semuanya hanya memberikan janji dan bukan bukti.
“Makanya ketika ditanya akan jualan apa untuk menjadi wali kota, ya, saya tidak mau. Karena itu pasti berjanji, dan saya tidak mau berjanji,” tandasnya.
Hadir dalam debat kandidat itu di antaranya Ketua DPRD Samarinda Siswadi, Ketua KPU Samarinda Syarifuddin Tangalindo, dan undangan dari masing-masing tim sukses. (zom/*/dym)
Langganan:
Komentar (Atom)