Selasa, 18 Mei 2010

Diskusi Garapan Jurnalis Centre, Mirip Debat Publik KPU

Jum'at, 07 Mei 2010 , 08:28:00
Diskusi Garapan Jurnalis Centre, Mirip Debat Publik KPU
Senci “Jualan” Layanan Gratis, Sutrisno Tak Mau Terbar Janji

Bagi berita/artikel ini kepada rekan atau kerabat lewat Facebook
Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah (Pemilukada) Kota Samarinda semakin dekat. Masing-masing kandidat kepala daerah dan pasangan tentunya sudah bersiap-siap dengan strategi melakukan penataan kota.

KEGIATAN yang merupakan garapan gabungan wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Centre ini digelar di Hotel Bumi Senyiur, kemarin (6/5). Sebanyak lima kandidat dari 8 yang sudah mendaftar, hadir dalam debat yang dikemas mirip seperti debat publik yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kelima kandidat itu antara lain, Andi Harun, Senci Han, Riswan Asamaran, dan Sutrisno. Hanya satu yang bukan kandidat wali kota, tapi wakil wali kota yakni Nusyirwan Ismail. Pasalnya Syaharie Jaang berhalangan hadir, lantaran menghadiri pembagian insentif untuk RT se-Samarinda.

Tercatat tiga kandidat tidak hadir yakni Ipong Muchlissoni, Dani Firnanda, dan Iriansyah Busra. Dua di antara kandidat yang hadir, membawa pasangannya yakni Senci Han yang berpasangan Carolus Tuah dan Sutrisno berpasangan Yulianus Henock.

Sementara panelis yang dihadirkan di antaranya Nanang Riono (akademisi), Rachmadi Abdul Gaffar (LSM), Ambrosius (jurnalis), dan Romo Rudy (pemerhati lingkungan). Dipandu moderator Muchlis, debat berjalan cukup argumentatif.

Pada sesi awal, para kandidat diberi waktu lima menit untuk menyampaikan program-programnya. Dari kelima kandidat ini, lebih banyak membahas masalah banjir dan tata ruang kota. Karena masalah ini dianggap paling krusial untuk saat ini.

“Percuma anggaran Rp 2,4 triliun, tapi infrastruktur masih tidak layak. Makanya kami punya solusinya,” sela Andi Harun.

Saat giliran Riswan Asmaran, dikatakan mestinya pembangunan di Samarinda ini sudah mengalami percepatan 25 persen setiap tahunnya. Karena ditunjang anggaran yang besar, maka sangat layak pembangunannya juga berjalan dengan baik.

“Makanya tata kelola pembangunan kota harus diperbaiki. Kalau kesejahteraan masyarakat tak tercapai, maka pembangunan tidak ada apa-apanya,” imbuhnya.

Senci Han, kandidat kepala daerah dari unsur independen menyebutkan pemberian pelayanan gratis kepada masyarakat sebenarnya tidak membuat Samarinda bangkrut. Misalnya, untuk pemberian pelayanan gratis untuk pendidikan dan kesehatan. “Sekarang ini pembebasan pelayanan untuk masyarakat sepertinya ribet. Jadi masyarakat juga susah. Bahkan sekarang ini Samarinda belum banyak melakukan pembenahan,” katanya.

Sedangkan Nusyirwan, kandidat wakil wali kota mengatakan, berani berjanji untuk memperbaiki sistem pendidikan di Kota Samarinda. Menyusul hasil buruk dalam ujian nasional (UN) kemarin. Menurutnya, tak perlu saling menyalahkan menyangkut hasil buruk ujian dari semua sekolah.

“Karena yang perlu dibenahi adalah mekanisme dari dua sisi yang terlibat dalam pendidikan. Yakni pendidiknya dan pelajarnya,” kata Nusyirwan.

Yang dapat giliran terakhir adalah Sutrisno, kandidat yang juga melalui jalur independen mengatakan tidak bisa memberikan janji apa-apa. Tapi dirinya akan memberikan bukti nyata kepada masyarakat. Karena selama ini dianggapnya, semuanya hanya memberikan janji dan bukan bukti.

“Makanya ketika ditanya akan jualan apa untuk menjadi wali kota, ya, saya tidak mau. Karena itu pasti berjanji, dan saya tidak mau berjanji,” tandasnya.

Hadir dalam debat kandidat itu di antaranya Ketua DPRD Samarinda Siswadi, Ketua KPU Samarinda Syarifuddin Tangalindo, dan undangan dari masing-masing tim sukses. (zom/*/dym)

Tidak ada komentar: